Akhtar80harvey's website

Our website

15
Ju
Tips Memberbesar Nilai Karbon Aktif
15.06.2016 05:25

Liang tempurung nyiur selama ini lebih kerap kita tahu sebagai bahan bakar bagi pemanggangan ikan atau santapan lain. Papar kehitaman arang tempurung nyiur itu, ternyata menyimpan nilai ekonomis yang lebih semampai lagi.

Tempurung kelapa yang dijadikan arang dapat ditingkatkan nilai ekonomisnya dengan menjadikannya karbon giat. Cara menciptakan karbon tangkas dari tempurung kelapa juga relatif lebih mudah.
Karbon aktif berfungsi sebagai gadang untuk menjernihkan air, pemurnian gas, industri minuman, farmasi, katalisator, serta berbagai bentuk penggunaan berbeda. Tempurung nyiur adalah salah satu bahan zat arang aktif yang kualitasnya sedang baik dijadikan karbon berperan.

Bentuk dan ukuran, & kualitas tempurung kelapa mesti diperhatikan ketika membuat zat arang aktif. Tempurung kelapa yang akan jadi bahan penghasil karbon aktif, sebaiknya bebentuk setengah ataupun seperempat tolok ukur tempurung.

Kalau ukurannya terlalu hancur, jadi tempurung itu kurang elok dijadikan bakal pembuat zat arang aktif. Dr segi pembawaan, tempurung kelambir yang memenuhi syarat dijadikan bahan zat arang aktif diartikan sebagai kelapa yang benar-benar renta hingga warnanya hitam mengkilap dan muluk.

Tempurung yang dijadikan material pembuat zat arang aktif biasanya dari kelambir yang dijadikan kopra. Batok kelapa yang didapatkan merupakan belahan dua dr satu buah kelapa utama. Untuk menciptakan karbon giat yang terlalu berkualitas, tempurung harus bersih dan terbelah dari sabutnya.

Ada 2 tahapan membuat karbon giat yang bermutu dari tempurung kelapa. Takat pertama yang harus dikerjakan adalah tempurung dibuat arang dengan peralatan drum berpenutup.
Tahap kedua, melalui metode penggilingan arang tempurung hingga menghasilkan karbon aktif & serbuk arang. Serbuk liang ini masih bisa diproses menjadi bongkah arang tempurung. Penggilingan tersebut dilakukan dengan mesin sederhana berpenggerak listrik, diesel, alias bensin.

Derajat tempurung & proses pembakaran akan amat menentukan rendemen karbon giat yang dihasilkan. Kualitas tempurung kelapa biasa lebih cantik dibanding kelambir hibrida.
Agar dapat menikmati rendemen zat arang aktif yang lebih bagus, langkah-langkah metode pembakaran beserta cara tingkah diberi 4 lubang pada bagian bawah. Agar selama masa pembakaran udara bisa merasuk, drum kudu diganjal tiga potongan batu merah.

Pembakaran liang dilakukan lapis demi lapis tempurung. Mengasaskan pembakaran sanggup dengan mempergunakan kertas atau daun kelapa kering yang ditaruh dalam atas satu lapis tempurung di pokok drum. Setelah tempurung lapisan pertama terbakar, sedikit karena sedikit satu lapisan ditaruh diatasnya. Tingkat ini langsung dilakukan cukup drum maksimum.
Ketika tempurung lapisan buat mulai terbakar, batu bata yang menjadi beban drum pelan-pelan diambil, dengan demikian dasar drum langsung menjamah tanah serta menutup terowongan. Kemudian tingkah ditutup siaga dan jangan sampai terdapat udara yang masuk.

Apabila ada udara yang menyerap, maka liang yang terdapat dalam lengkara akan menjadi abu. Namun kalau lengkara ditutup kuat sebelum semua tempurung terbakar, tempurung tidak akan menjadi arang.
Keesokan harinya, setelah drum dingin, tutupnya dibuka, setelah itu drum dibaringkan. Arang tempurung kemudian dibongkar secara sedikitdemi sedikit. Arang tempurung yang tampak hitam, mengkilap, utuh, lebat (hujan), dan gampang dipatahkan menampilkan kualitasnya baik. kadar larutan dalam arang tempurung kelapa antara 50-70 persen.

Zat arang Aktif dan Komposisinya
Karbon atau liang aktif adalah material yang berbentuk direktori atau serbuk yang berawal dari material yang berisi karbon contohnya batubara, kulit kelapa, dan sebagainya. Dengan pengolahan tertentu adalah proses aktivasi seperti perlakuan dengan tuntutan dan temperatur tinggi, bisa diperoleh zat arang aktif yang memiliki parasan dalam yang luas.
Liang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon, dihasilkan daripada bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Tatkala pemanasan berlanjur, diusahakan supaya tidak terjadi kebocoran udara didalam ruangan pemanasan sehingga bahan yang mengandung zat arang tersebut cuma terkarbonisasi dan tidak teroksidasi. Arang selain digunakan sebagai bahan membakar, juga sanggup digunakan serupa adsorben (penyerap). Daya serap ditentukan oleh teperinci permukaan partikel dan pengaruh ini siap menjadi kian tinggi jika terhadap arang tersebut dijalani aktifasi pada bahan-bahan kimia ataupun pada pemanasan di dalam temperatur semampai. Dengan demikian, arang hendak mengalami regenerasi sifat-sifat fisika dan kimia. Arang yang demikian disebut sebagai arang aktif.

Di dalam satu gram karbon rajin, pada umumnya memiliki teperinci permukaan seluas 500-1500 m2, sehingga sangat efektif dalam menangkap partikel-partikel yang sangat halus berukuran 0. 01-0. 0000001 mm. Karbon berperan bersifat benar aktif serta akan melesap apa saja yang perhubungan dengan zat arang tersebut. Dalam waktu 60 jam umumnya karbon berperan tersebut manjadi jenuh & tidak berperan lagi. Oleh sebab itu biasanya liang aktif pada kemas di dalam kemasan yang kedap udara. Sampai tahap unik beberapa rupa arang tangkas dapat di reaktivasi kembali, meskipun demikian tdk jarang yang disarankan dalam sekali mengenakan. Reaktifasi karbon aktif amat tergantung dr metode aktivasi sebelumnya, oleh karena itu perlu diperhatikan keterangan di kemasan barang tersebut.

Karbon aktif ada dalam bermacam-macam bentuk misalnya gravel, perindu (0. 8-5 mm) wajah fiber, pati (PAC: powder active carbon, 0. 18 mm alias US mesh 80) & butiran-butiran imut (GAC: Granular Active carbon, 0. 2-5 mm) dan sebagainya. Serbuk karbon aktif PAC lebih mudah digunakan di dalam pengolahan larutan dengan komposisi pembubuhan yang sederhana.

Serbuk (powder) Senarai (granule) Kepulan (gravel) Gendam
Bahan asas yang berasal dari hewan, tumbuh-tumbuhan, sampah ataupun mineral yang terdapat karbon dapat dibuat sebagai arang aktif, bahan itu antara berbeda: tulang, tiang lunak, kulit padi, tongkol jagung, tempurung kelapa, sabut kelapa, ampas penggilingan tebu, tinja pembuatan kertas, serbuk gergaji, tiang keras serta batubara.

Pada negara katulistiwa masih dijumpai arang yang dihasilkan secara tradisional yaitu dengan menggunakan drum / lubang di dalam tanah, beserta tahap pengolahan sebagai berikut: bahan yang akan dibakar dimasukkan dalam lubang / drum yang terbuat dari piringan besi. Dan kemudian dinyalakan maka itu bahan patokan tersebut terbakar, pada saat pembakaran, drum atau mungkum ditutup sehingga hanya tingkap yang dibiarkan terbuka. lni bertujuan serupa jalan keluarnya asap. Tatkala asap yang keluar bercorak kebiru-biruan, tingkap ditutup serta dibiarkan tengah kurang lebih kurang 8 jam atau satu malam. Dengan hati-hati tempat atau dibuka dan dicek apakah tetap ada bara yang menyala. Jika tetap ada yang atau lengkara ditutup balik. Tidak dibenarkan mengggunakan air untuk mencabut bara yang sedang menunu, karena bisa menurunkan kwalitas arang. Tetapi secara sudah tidak asing lagi proses penggarapan arang aktif dapat dibagi dua diantaranya:

1. Prosedur Kimia.
Benda baku dicampur dengan bahan-bahan kimia khusus, kemudian dibuat padat. Lalu kemudian padatan itu dibentuk jadi batangan dan dikeringkan bersama dipotong-potong. Aktifasi dilakukan di temperatur 100 °C. Liang aktif yang dihasilkan, dicuci dengan air selanjutnya dikeringkan pada temperatur 300 °C. Dengan reaksi kimia, benda baku sanggup dikarbonisasi terlebih dahulu, lantas dicampur secara bahan-bahan kimia.

2. Proses Fisika
Benih baku terlebih dahulu disusun arang. Lalu kemudian arang itu digiling, diayak untuk selanjutnya diaktifasi menggunakan cara pemanasan pada temperatur 1000 °C yang disertai pengaliran uap. Proses fisika banyak digunakan dalam aktifasi arang renggangan lain:

a. Proses Gumpal: bahan patokan atau liang terlebih lalu dibuat ketul, dengan jalan mencampurkan benih baku ataupun arang lagak dengan “ter”. Kemudian, gumpalan yang dihasilkan dikeringkan di 550 °C untuk lalu kemudian diaktifasi secara uap.

b. Destilasi polos: merupakan suatu proses permakluman suatu benih akibat adanya pemanasan pada temperatur tinggi dalam hal ihwal sedikit ataupun tanpa udara. Hasil yang diperoleh berperangai residu yakni arang dan destilat yang terdiri dari campuran metanol dan kecut asetat. Endapan yang didapatkan bukan yakni karbon asli, tetapi sedang mengandung abu dan “ter”. Hasil yang diperoleh diantaranya metanol, asam asetat & arang tersangkut pada bahan baku yang digunakan & metoda destilasi. Diharapkan volume arang berperan yang didapatkan dapat mirip atau kian baik mulai pada absorbsivitas arang aktif yang diaktifkan dengan menyertakan bahan-bahan kimia. Juga menggunakan cara yang ada, pencemaran mayapada sebagai dampak adanya permakluman senyawa-lenyawa kimia dari materi-materi pada ketika proses pengarangan dapat diihindari. Selain itu, dapat dihasilkan asap larutan sebagai impak pengembunan uap hasil permakluman senyawa-senyawa organik dari bahan baku.

Terselip empat hal yang dapat dijadikan watas dari penguraian komponen kayu yang terjadi karena pemanasan pada proses destilasi luruh, yaitu:
1. Batasan A adalah suhu pemanasan mencapai berbatas 200 °C. Air yang terkandung di dalam bahan asas keluar jadi uap, sehingga kayu jadi kering, retak-retak dan miring. Kandungan karbon lebih kurang 60 %.
2. Batasan B adalah suhu pemanasan antara 200-280 °C. Kayu secara perlahan – lahan menjadi arang & destilat dari dihasilkan. Warna arang jadi coklat jahanam serta lembaga karbonnya kira-kira 700%.
3. Batasan C adalah temperatur pemanasan renggangan 280-500 °C. Pada temperatur ini bakal terjadi karbonisasi selulosa, persetujuan lignin & menghasilkan “ter”. Arang yang terbentuk berwarna hitam bersama kandungan karbonnya meningkat menjadi 80%. Reaksi pengarangan berdasar pada praktis habis pada suhu 400 °C.
4. Batasan D merupakan suhu pemanasan 500 °C, terjadi mode pemurnian liang, dimana pembentukan “ter” tetap terus berjalanberlaku, berlanjur, berlantas, berproses, terjadi,. Kadar karbon akan menumpuk mencapai 90%. Pemanasan diatas 700 °C, hanya menyembulkan gas hidrogen.

Namun berdasar pada umum serta sederhana metode pembuatan arang aktif terdiri dari tiga tahap ialah:
1. Dehidrasi: proses penghilangan air dimana bahan patokan dipanaskan datang temperatur 170 °C.
2. Karbonisasi: pemecahan bahan-bahan organik menjadi zat arang. Suhu lebih dari 170°C mau menghasilkan CO, CO2 & asam asetat. Pada temperatur 275°C, dekomposisi menghasilkan “ter”, metanol serta hasil samping lainnya. Pembentukan karbon terjadi pada temperatur 400 – 600 0C
3. Aktifasi: dekomposisi tar dan pertambahan pori-pori. Dapat dilakukan secara uap atau CO2 sederajat aktifator.

Metode aktifasi yakni hal yang penting diperhatikan disamping benda baku yang digunakan. Yang dimaksud dengan aktifasi merupakan suatu perlakuan terhadap arang yang menghendaki untuk memperbesar pori ialah dengan cara memecahkan tumpuan hidrokarbon ataupun mengoksidasi molekul – molekul permukaan oleh karena itu arang menanggung perubahan sifat, baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah banyak dan berpengaruh terhadap kemampuan adsorpsi. Metoda aktifasi yang umum dikenakan dalam produksi arang rajin adalah:

1. Aktifasi Kimia.
Aktifasi yang ada merupakan reaksi pemutusan ikatan karbon mulai senyawa organik dengan pemakian bahan-bahan kimia. Aktifator yang digunakan merupakan bahan-bahan kimia seperti: hidroksida logam alkali garam-garam bikarbonat, klorida, sulfat, fosfat dari logam alkali tanah & khususnya ZnCl2, asam-asam anorganik seperti H2SO4 dan H3PO4.

2. Aktifasi Fisika.
Aktifasi ini yaitu proses penghentian pemastian rantai zat arang dari sintesis organik menggunakan bantuan gerah, uap dan CO2. Biasanya arang dipanaskan didalam tanur pada temperatur 800-900°C. Oksidasi dengan udara pada temperatur rendah ialah reaksi eksoterm sehingga sulit untuk mengontrolnya. klik narasumber Sedangkan pemanasan dengan uap atau CO2 pada temperatur tinggi ialah reaksi endoterm, sehingga lebih mudah dikontrol dan paling umum diterapkan.

Beberapa bahan baku lebih mudah dalam diaktifasi jika diklorinasi terlebih dahulu. Setelah itu dikarbonisasi bagi menghilangkan hidrokarbon yang terklorinasi dan akhimya diaktifasi secara uap. Pun memungkinkan bagi memperlakukan arang kayu secara uap yodium pada temperatur 500°C dan kemudian desulfurisasi dengan H2 untuk menjadi arang beserta aktifitas menjulung. Dalam beberapa bahan peranti yang diaktifasi dengan percampuran bahan kimia, dikasih aktifasi kedua dengan uap untuk memberikan sifat fisika tertentu.

Secara bertambah lamanya destilasi bersama bertambah tingginya temperatur destilasi, mengakibatkan nominal arang yang dihasilkan tambah kecil, tetapi destilasi & daya serap makin besar. Meskipun dengan semakin bertambahnya temperatur destilasi, absorbsivitas arang rajin semakin indah, masih diperlukan pembatasan temperatur yaitu tdk melebihi 1000 0C, soalnya banyak terbentuk abu jadi menutupi pori-pori yang berfungsi untuk mengadsorpsi. Sebagai alhasil daya serap arang aktif akan menurun. Lalu kemudian campuran arang dan aktifator dipanaskan dalam temperatur serta waktu unik. Hasil yang diperoleh, diuji daya serapnya terhadap sintesis Iodium.
Pendapat SII No. 0258 -79, arang aktif yang elok mempunyai persyaratan seperti yang tercantum di tabel berikut ini:

Karbon berperan terbagi atas 2 jenis yaitu liang aktif sederajat pemucat serta arang rajin sebagai penyerap uap.

1. Arang rajin sebagai pemucat.
Biasanya berupa serbuk yang sangat halus dengan sengkang pori meraih 1000 A0 yang diterapkan dalam tahap cair. Umumnya berfungsi untuk memindahkan zat-zat penganggu yang menyebabkan ragam dan bau yang tidak diharapkan dan melepaskan pelarut mulai zat – zat penganggu dan keuntungan yang yang lain pada industri kimia serta industri terkini. Arang giat ini diperoleh dari serbuk – tahi gergaji, ampas produksi kertas ataupun dari benih baku yang mempunyai densitas kecil & mempunyai struktur yang melempem.

2. Arang aktif sebagai penyerap uap.
Biasanya nyata granula ataupun pellet yang sangat muluk dengan diameter pori berputar antara 10-200 A0. Jenis porinya semakin halus serta digunakan dalam fase udara yang berfungsi untuk memperoleh kembali pelarut atau semangat pada penyendirian dan pemurnian gas. Umumnya arang itu dapat diperoleh dari tempurung kelapa, urat, batu bata alias bahan asas yang ada struktur mersik.

Sehubungan secara bahan asas yang dipakai dalam penggarapan arang tangkas untuk masing- masing jenis, pernyataan lebih dari bukan yaitu suatu tugas.
Dengan prosedur oksidasi karbon aktif yang dihasilkan terdiri dari dua jenis, adalah:

1. L-karbon (L-AC)
Zat arang aktif yang dibuat beserta oksidasi di dalam suhu 300oC – 400oC (570o-750oF) secara menggunakan udara atau oksidasi kimia. L-AC sangat cocok dalam mengadsorbsi ion terlarut dari logam berat basa seperti Pb2+, Cu2+, Cd2+, Hg2+. Sifat permukaannya yang bersifat kecut akan berinteraksi dengan senar basa. Suksesi dari L-AC dapat dikerjakan menggunakan asam atau gusar seperti NaCl yang hampir sama perlakuannya pada perubahan ion.

2. H-karbon (H-AC)
Karbon giat yang didapatkan dari mode pemasakan dalam suhu 800o-1000oC (1470o-1830oF) setelah itu didinginkan di atmosfer inersial. H-AC punya permukaan yang bersifat basa sehingga gak efektif di dalam mengadsorbsi logam berat alkali pada suatu larutan larutan tetapi luar biasa lebih effisien dalam mengadsorbsi kimia organik, partikulat hidrofobik, dan senyawa kimia yang mempunyai kelarutan yang nista dalam larutan. Akan tetapi H-AC dapat dimodifikasi dengan menaikan angka asiditas. Permukaan yang netral hendak mengakibatkan tidak efektifnya dalam mereduksi serta mengadsorbsi kimia organik maka itu efektif mengadsorbsi ion senar berat dengan kompleks khelat zat organik alami sekalipun sintetik menggunakan menetralkannya.

Di dalam aplikasi karbon aktif baik yang dikenakan sebagai syarat adsorbsi, tanda atau syarat filtrasi pada titik injeksi tertentu, maka kriteria model titik pembubuhan karbon rajin perlu diperhatikan, yaitu:

1. Karbon yang terdapat didalam kantong saksama dimasukkan kedalam tangki penyimpanan dan dicampur dengan larutan untuk disiapkan menjadi pumpunan yang mengandung 0, 1 kg karbon aktif pati per 1 liter uap. Lebih baik lagi jikalau suatu instalasi memiliki 2 tangki pumpunan, maka pura larutan zat arang aktif bagi dibubuhkan mampu ditempatkan di dalam 2 bak, jika perpaduan didalam satu tangki sudah kosong, oleh karena itu sudah tersedia larutan didalam tangki yang lain untuk dibubuhkan, tanpa mesti menunggu rencana larutan karbon aktif yang baru.

2. Agitator mekanik harus disediakan dalam tangki penyimpanan bagi menjaga pumpunan karbon rajin tetap “tersuspensi” didalam uap atau melestarikan larutan supaya tidak memadat
3. Perpaduan biasanya dipompakan kedalam tangki yang menggaplok sejumlah perpaduan dan mau diumpankan untuk lebih dr beberapa beker berikutnya. Tanki tersebut harus mudah dibersihkan dan dipelihara. Tangki ini harus mempunyai lapisan bentrok karat sebagaimana cat epoxy atau bitumastik untuk melindunginya dari pengkaratan.

4. Saluran pembawa sintesis karbon berperan bubuk mesti dipasang menurun/landai menuju teritori pembubuhan, secara perlengkapan untuk mendorong karbon yang sepertinya mengendap serta menyumbat didalam pipa. Corong harus dibuat dari bahan bebas karat dan bebas erosi seperti (getah) perca, plastik dan besi baja. Pendorong corong dan pacar pisau pencampur dalam bak penyimpanan serta tangki harus terbuat dari logam baja dalam menahan peringkat dan erosi.

5. Sengketa yang paling umum di dalam pengoperasian zat arang aktif pati adalah perlakuan bahan kimia. Karena berbentuk pati, maka lebu merupakan sengketa utama, khususnya jika organisasi pencampuran kering digunakan.

6. Jika zat arang aktif kanji digunakan berdasar pada terus menerus atau jika sejumlah besar dipakai dalam tempo tertentu, penukaran ke organisasi basah harus dipertimbangkan
7. Pada instalasi pengolahan larutan, karbon giat yang tumpah ruah melewati saringan dan mendatangi sistem distribusi dapat membuahkan “air hitam”. Air hitam biasanya disebabkan oleh koagulasi yang tidak baik atau jumlah karbon rajin yang semampai ditambahkan sejurus sebelum penyaringan. Untuk menghilangkan masalah ini, titik pembubuhan harus dipindahkan ke organisasi penyadap larutan baku / ke di dalam bak pengadukan cepat

Liang aktif yang merupakan adsorben adalah suatu padatan berpori, yang sekitar besar berisi dari point karbon publik dan masing- masing berikatan secara kovalen. Dengan demikian, permukaan liang aktif merayu non polar. Selain komposisi dan polaritas, struktur pori juga adalah faktor yang penting diperhatikan. Struktur pori berhubungan dengan luas segi, semakin kecil pori-pori liang aktif, mengundang luas parasan semakin raksasa. Dengan demikian kecepatan adsorpsi bertambah. Dalam meningkatkan kesebatan adsorpsi, disarankan agar mempergunakan arang berperan yang telah dihaluskan. Sifat liang aktif yang paling berarti adalah isi. Dalam hal ini, terselip beberapa segmen yang mempengaruhi daya serap adsorpsi, yaitu:

1. Sifat Sesapan
Banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh arang giat, tetapi kemampuannya untuk mengadsorpsi berbeda bagi masing- masing senyawa. Adsorpsi akan bertambah banyak sesuai pada bertambahnya luasan molekul rembesan dari sturktur yang sama, menyerupai dalam jalur homolog. Adsorbsi juga dipengaruhi oleh pertemuan fungsi, prestise gugus manfaat, ikatan kembar, struktur rantai dari sintesis serapan.

2. Temperatur
Di dalam pemakaian liang aktif dianjurkan untuk menginvestigasi temperatur dalam saat berlangsungnya proses. Faktor yang menawan temperatur proses adsoprsi adalah viskositas & stabilitas thermal senyawa sesapan. Jika pemanasan tidak menawan sifat-sifat sintesis serapan, laksana terjadi reformasi warna sekalipun dekomposisi, oleh karena itu perlakuan dijalani pada titis didihnya. Untuk senyawa volatil, adsorpsi dilakukan pada temperatur kamar / bila mengizinkan pada temperatur yang semakin rendah.

3. pH (Derajat Keasaman).
Bagi asam-asam organik, adsorpsi akan meningkat jikalau pH diturunkan, yaitu pada penambahan asam-asam mineral. Ini disebabkan karena kemampuan asam mineral dalam mengurangi ionisasi asam organik tersebut. Sebaliknya bila pH asam organik dinaikkan yakni dengan menambahkan alkali, adsorpsi akan sepi sebagai konsekuensi terbentuknya garam.

4. Waktu Singgung
Kalau arang tangkas ditambahkan di dalam suatu minuman, dibutuhkan waktu untuk mencapai kesetimbangan. Tempo yang dibutuhkan berbanding terjungkal dengan peringkat arang yang digunakan. Selisih ditentukan oleh dosis liang aktif, pengadukan juga mempengaruhi waktu desak. Pengadukan dimaksudkan untuk menyampaikan kesempatan di partikel arang aktif bagi bersinggungan menggunakan senyawa sesapan. Untuk pumpunan yang mempunyai viskositas tinggi, dibutuhkan waktu singgung yang lebih lelet.

Karbon tangkas merupakan bahan yang multifungsi dimana hampir sebagian besar telah dikenakan penggunaannya oleh berbagai bentuk jenis industri. Aplikasi tentang penggunaan zat arang aktif mampu dilihat dari susunan dibawah itu:
Tabel. 2 Aplikasi aplikasi karbon giat dalam industri.

Comments


Datenschutzerklärung
Make your free website at Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!